Halaman

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jelajah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2011

KEKUATAN RASA SYUKUR

Seringkali terasa begitu penat ketika ada beribu masalah. Seringkali pula terasa tak cukup kuat pundak ini menanggung beban. Seringkali tak mampu menahan helaian nafas panjang, mengeluh. Bahkan sesekali air mata pun menetes tanpa alasan yang jelas.

Masalah selalu ada. Tantangan hidup semakin bertambah. Namun demikian juga kemampuan kita untuk menanggung semua masalah itu. Tak terasa semakin kuat pula. Tak terasa kaki lebih mampu berjalan berpuluh-puluh kilometer bahkan ketika pundak kita semakin dibebani jutaan masalah.

Darimana kekuatan itu timbul? Tidak serta merta kekuatan muncul. Kekuatan muncul tak seperti permainan sulap dengan kata SIMSALABIM maka dari tidak ada menjadi ada.
Kekuatan muncul dari pikiran kita untuk selalu bersyukur. Mensyukuri nikmat dari setiap masalah, mensyukuri tiap tetes air mata, mensyukuri tiap helaian nafas panjang, mensyukuri semuanya.

Aku bukan SUPERWOMAN yang bisa atasi segala masalah dengan mudah. Aku percaya bahwa pasti ada jalan bagi semua masalah. Dan saat masalah datang adalah saat terbaik untuk menerima rahmat berlimpah dari Tuhan.
PUJI TUHAN. HALLELUYA.

Rabu, 17 November 2010

ANAK DAN GEREJAKU DALAM PERGULATAN ZAMAN

(dalam rangka ultah anakku dan ultah Paroki Santo Yusuf Baturetno Wonogiri)

ANAKKU MENYONGSONG ZAMAN

Tanggal 16 Oktober 2010. Anakku, Gabriella Mahatva Mayangrum Elans (Yayang) sampai pada langkah kesembilan tahunnya. Tak terasa memang. Sembilan tahun yang lalu aku bergulat dengan maut. Menjadi tangan panjang dari kebesaran Ilahi. Ambil bagian dalam menghadirkan sosok kecil tak berdosa. Hadirnya membawa keceriaan bagi banyak orang. Teringat di malam kelahiran Yayang, ada kejadian yang menguras daya. Dari tali pusatnya keluar darah yang lumayan menggetarkan dada yang melihatnya. Berlarilah adikku (Christine Yulianita) untuk mencari pertolongan. Tanpa disadari ada gerakan yang tiba-tiba muncul seketika untuk bertindak. Hasilnya kelegaan yang luar biasa. Atau tepatnya bahagia.

Satu demi satu detik, menit, jam, hari, minggu sampai dengan tahun terlewati bersama. Kulihat, kunikmati, kurasakan betapa anakku beranjak menyongsong zaman. Dulu ketika masa kelahirannya, media komunikasi masih menjadi barang mewah. Sekarang, semakin murah harga sebuah teknologi. Namun, ada sisi menarik dibalik mahal atau murahnya teknologi komunikasi. Yaitu pada kualitas hubungan antarpribadi yang mulai bertransformasi. Komunikasi antarpribadi menjadi semakin mahal. Orang lebih mudah untuk menjadi lebih autis. Asyik dengan dirinya sendiri. Sibuk mengurus dirinya sendiri. Dengan alasan yang ”seakan” tepat yaitu memenuhi tuntutan kebutuhan hidup.

Ada sebersit keraguan yang muncul. Mampukah aku membawa anakku menyongsong zaman? Mampukah aku mempersiapkannya hadapi masa depan? Mampukah aku memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk aktualisasi dirinya?

GEREJAKU MENGIRINGI ZAMAN

Tanggal 16 Oktober 2010. Perayaan ulang tahun Paroki Santo Yusup Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Ultah ke-72. Perjalanan panjang. Dimulai sejak tahun 1929. Dirintis oleh Ny. Bernadette Swie Tjin Hong (Mak Hong). Rumah Mak Hong menjadi tempat belajar agama Katolik dan tempat singgah para Pastur yang berkunjung ke Baturetno. Melihat perkembangan umat awal di Baturetno dan sekitarnya yang berbasis di Baturetno, Nguntoronadi, dan Ngrejo, Tirtomoyo, Romo Mgr P.J. Willekens 16 Oktober 1938 berkenan memberkati Gereja Baturetno. Gereja tersebut didirikan di atas tanah milik Tiong lng.

Era penjajahan dan proklamasi menjadi bagian dari rangkaian perjalanan kehidupan menggereja. Singkat cerita terjadi perkembangan umat Katolik. Pada tahun 1968, Stasi Wonogiri berdiri menjadi Paroki. Lalu April 1994, Romo A. Priyambono, Pr. selaku Romo Vikep Surakarta berkenan memberkati dan meresmikan Gereja Santo Ignatius Danan, Giriwoyo sebagai Paroki Administratif. Paroki baru ini dikepalai oleh Romo H.P. Bratasudarma, SJ dengan menggembalakan umat lebih dari 2000. Mulai tanggal 31 Juli 1998 Paroki Danan menjadi Paroki mandiri. Peresmian Paroki Danan dilaksanakan oleh Uskup Ignatius Suharya,Pr pada tanggal 24 Agustus 1998.

Kelahiran demi kelahiran paroki muncul dalam perkembangan kehidupan menggereja. Di sisi lain, kehidupan menggereja pun tertempa oleh arus zaman. Yang mau tak mau harus mengglobal juga. Gereja menjadi bagian dari rangkaian transformasi umat. Dulu sendika dhawuh, sekarang ogah-ogahan. Dulu beradu pandang dalam komunitas secara intens, sekarang cukup dengan SMS saja. Dulu banyak penggerak, sekarang minim penggerak. Dulu banyak kaum muda, sekarang tinggal yang tua-tua. Dulu sangat kaku, sekarang lebih fleksibel dan kreatif.

Mencuat juga sedikit kekhawatiran. Mampukah gerejaku menghadapi arus zaman? Mampukah gerejaku teguh dalam mengantar umat setia dalam iman?

DARI MASALAH MUNCUL KEKUATAN

Merunut perjalanan hidup anakku. Ada saat tiba-tiba muncul masalah. Lalu tiba-tiba pula muncul kekuatan. Dari kegalauan muncul kesadaran untuk bertindak. Dengan segala macam cara. Berjalan, melompat, bahkan berlari secepat kilat.

Merujuk perjalanan hidup menggereja. Ada saat kegelapan lalu tiba-tiba muncul gerakan. Dari yang semula hanya satu paroki lalu bertumbuh menjadi tiga paroki.

Keduanya menggambarkan bahwa tidak pernah ada gambar atau maket yang jelas, pasti, nyata, tepat, dan benar-benar pas. Tidak ada yang benar-benar dapat meramalkan apa yang bakalan terjadi di masa sekarang ataupun yang akan datang. Serasa mengalir begitu saja. Serta merta kejadian terangkai seiring perguliran waktu. Beradaptasi, bertransformasi, berkreasi, bertumbuh, dan berkembang.

Maka kemudian, kekhawatiranku menjadi patut untuk dihentikan. Diletakkan dalam kerangka untuk waspada dalam bertindak. Bukan jadi tembok penghalang langkah maju ke depan.

BERSAHABAT DENGAN ANAK DAN GEREJAKU

Banyak jawab atas kekhawatiran. Salah satu jawabannya berada disini dan sekarang. Menjadi sahabat bagi anak dan gereja.

Bersahabat dengan anakku :

ü Aku memilih untuk bersahabat dengan anakku.

ü Aku memilih waktu yang berkualitas dalam berelasi dengan anakku.

ü Aku memilih menjadi teladan.

ü Aku memilih melakukan yang terbaik.

Bersahabat dengan gerejaku:

ü Aku memilih mengambil tanggung jawab.

ü Aku memilih terlibat dalam tugas tatalaksana misa.

ü Aku memilih menerima komuni sebagai penyegar jiwa.

ü Aku memilih memilih bacaan yang baik bagi rohaniku.

Masih banyak pilihan lain yang bisa diambil. Kiranya perjalanan hidup anakku menyongsong zaman akan diiringi juga oleh perjalanan hidup menggereja. Bagaimana dengan anakmu? Bagaimana dengan gerejamu?

ANDA PUAS KAMI LEMAS

Antrian di Kantor Pos di dekat rumahku lumayan padat. Tepatnya tanggal 5. Awal bulan. Saat yang tepat untuk ambil gajian bagi para pensiunan. Saat bayar listrik. Saat bayar tagihan angsuran leasing sepeda motor. Para pengantri punya banyak keperluan. Namun ada keperluan yang tidak lagi diperlukan yaitu kirim surat. Surat melalui pos sudah tidak ‘njaman’ lagi.

Pak Pos berkelakar. Suaranya keras memenuhi ruangan. Bercanda dengan simbah-simbah yang antri ambil uang. Aku pun mengantri untuk bayar tagihan pulsa. Sambil menikmati bunyi palu ‘cap’ pos berkumandang. Iseng aku menggoda, “Wah Pak Pos baru laris manis!” Lalu terceletuk suatu kalimat. “Biasa mbak, Anda puas kami lemas!” Spontan. Aku ketawa. Ha ha ha. Kalimat yang menarik untuk diulas.

TEKNOLOGI PENGGANTI SURAT
Dulu, Kantor Pos ramai dengan antrian untuk kirim surat, wesel ataupun paket. Sekarang ada pergeseran. Seiring perkembangan teknologi, surat menjadi barang antik. Tergantikan oleh SMS, email, chatting, twitter, telepon atau rupa-rupa teknologi komunikasi lainnya. Berdasarkan ulasan di Kompas, 11 Oktober 2010, PT Pos Indonesia mendata merosotnya pengiriman surat individual sampai 68% hampir satu dekade ini. Sampai tahun 2008 pengiriman surat individual hanya sebanyak 4 juta pucuk per bulan. Kondisi itu sudah merosot 68% dibandingkan tahun 2000. Apalagi tahun 2010 ini, pengiriman surat individual pasti lebih rendah lagi.

Dunia surat-menyurat memang sudah tergeser oleh teknologi. Hanya dalam hitungan satu menit bahkan beberapa detik saja. Pesan dikirim. Pesan diterima. Pesan pun dimuat dalam kata-kata yang singkat, padat, dan jelas. Suatu kemajuan yang luar biasa namun juga ‘mungkin’ kemunduran.

ASYIKNYA BERSAHABAT PENA
Kebiasaan bersahabat pena yang sempat digandrungi para anak-anak era sembilan puluhan patut diacungi jempol juga. Melalui surat, anak-anak lebih belajar untuk menyusun kalimat dengan cara yang lebih tepat. Disebut lebih tepat karena menulis surat tak mungkin hanya dalam 140 karakter saja. Paling tidak minimal satu lembar kertas penuh. Melalui surat, anak-anak belajar mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Anak-anak belajar untuk menulis. Dan ternyata, fakta yang hampir tak terbantahkan, banyak penulis hebat karena berlatih menulis.

Ada pengalaman pribadiku yang menarik tentang sahabat pena. Teringat satu orang sahabat pena saya. Bertemu baru satu kali dalam ajang lomba mengarang waktu SMP dulu di Semarang. Setelah itu kami bersurat-suratan. Berlanjut terus. Cerita dari mulai sekolah, cita-cita, sampai kekasih. Luar biasanya, sampai sekarang kami masih menjadi sahabat. Efek surat waktu SMP itu masih menggema sampai sekarang.

Bersahabat pena masih menawarkan suatu yang menarik. Relasi yang terbangun dari surat terasa lebih hangat. Lebih dekat. Lebih personal. Setidaknya tak ada hacker. Imajinasi pun lebih hidup. Membayangkan bagaimana reaksi wajah penerima surat. Berdebar-debar menunggu kapan surat dibalas. Menebak-nebak apa isi balasan suratnya. Nuansa yang menyenangkan.

PELAYANAN PUBLIK YANG MERAKYAT
PT Pos Indonesia sekarang mulai bidik pengiriman surat iklan (advertaising mail/ admail) serta surat tagihan (billing). Pak Pos sekarang tidak sibuk menempel perangko lagi. Namun, masih ada yang sama. Sapaan-sapaan yang akrab. Celotehan yang asyik. Membuat para pengantri tidak merasa jemu. Membuat simbah-simbah merasa nyaman untuk antri. Bentuk pelayanan publik yang patut dipuji. Berbeda dengan pelayanan di sektor pemerintahan lain yang terasa lebih cuek. Bagi saya, pelayanan kantor pos masih patut diacungi jempol. “Anda Puas Kami Lemas” menjadi simbol bentuk pelayanan yang sungguh mengutamakan kepentingan konsumen. Bravo PT POS INDONESIA!

TAK PERLU KATAKAN CINTA PADAKU

Namaku Joni. Mataku menatap ke luar kaca mobil. Hujan mulai kembali mengurai musim kemarau. Tertegunku melihat titik-titik air hujan menetes menyusuri pinggiran kaca. Basah. Dingin. Rasa dingin ini menyeruak. Membawa kenangan akan dirinya kembali.

Lima belas tahun yang lampau. Kugandeng perempuan yang mungil, cantik, dan belia. Cici namanya. Dia begitu menawan. Wajah tanpa riasan membuatnya semakin cantik. Senja itu kami susuri lembah bertaburan pohon cemara. Pucuk-pucuk cemara bergoyang dengan kemayu. Angin bersiul riang memainkan irama tak bernada. Udara pun mulai terasa lembab. Dingin. Angin mulai binal memainkan ujung rambut panjangnya. Kubelai lembut uraian rambut hitamnya. Kutatap mata jernihnya. Tak sadar terucap tanyaku.
“Apakah kau cinta padaku?”
“Apakah itu penting untukmu?”
“Bagiku, penting.”
“Bagiku, tidak.”

Aku terdiam. Tak mampu berucap. Anehnya perempuan ini. Kata-kata cinta tak penting baginya. Bukankah perempuan menyenangi drama-drama dalam hidupnya. Dan cinta adalah drama yang abadi.
“Mengapa?”
“Aku hanya melakukan yang aku inginkan saja. Aku ingin menikmati waktu ini bersamamu. Tak peduli esok. Tak peduli apa yang kau pikirkan. Bahkan aku tak peduli kemarahan istrimu.”

Kata-kata itu terucap bagaikan peluru yang menghujam dadaku. Terasa sesak dadaku. Aku sendiri tak tahu apa yang aku maui. Apakah aku mencintainya? Entah. Yang kutahu aku merasa nyaman berada di samping perempuan ini. Aku tak harus memakai banyak topeng di depannya. Aku tak harus jadi orang yang pura-pura penuh perhatian. Tak harus selalu berpakaian rapi. Tak harus berbasa-basi.

“Mengapa?”
“Karena kesempatan bersamamu tak pernah dapat terulang lagi. Aku tahu kau pasti akan meninggalkanku. Aku pun tahu kalau aku tak mungkin memilikimu. Kau sudah beristri. Justru kesadaran itulah yang membuatku tak butuh kata-kata cinta darimu.”
“Aku merasa bersalah padamu.”
Tangan kuat perempuan itu menutup mulutku. “Ssssst. Diamlah. Jangan kau hujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan. Lebih banyak hal menyenangkan yang dapat dilakukan. Aku lelah mendengar pertanyaanmu. Aku lebih lelah lagi untuk menjawab pertanyaanmu.”

Aku pun diam. Membisu dalam kegelisahan pikiranku. Sementara langkah kami semakin jauh memasuki lembah cemara. Angin semakin bergairah menggoncang bumi. Pucuk-pucuk cemara menggeliat semakin kencang pula. Angin pun datangkan hujan. Rintiknya mulai berjatuhan. Semakin lama semakin deras. Kugandeng tangannya dan berlari mencari tempat untuk berteduh. Badannya basah dihujani air. Tangannya terasa dingin.

Ternyata senja itu saat terakhirku bersamanya. Cici pergi dan tak mungkin kembali. Hanya tertinggal nisan bertulis “Cinta Abadi” yang tergeletak di hutan cemara. Senja itu. Lima belas tahun yang lalu. Kutemui sesosok perempuan yang tak perlu kata cinta dariku. Ah, Cici, kalau kita bertemu kembali. Akan kukatakan aku cinta padamu beribu kali. Tak peduli meski kau tak membutuhkannya. Tak peduli meski kau tak anggap penting kata cinta itu. Aku akan tetap mengatakannya.

“Pak. Pak Joni… sudah sampai rumah pak!” Sapaan sopir membangunkan lamunanku. Dari dalam rumah berlari anakku. “Pah… papah! Papah sudah pulang! Pah, Cici sudah bisa menggambar ayam tadi di sekolah. Terus Cici juga sudah bisa bernyanyi tadi di depan kelas. Terus tadi Cici punya teman baru Pah namanya lucu banget”
Ah kicauan si kecilku tak tertahankan. “Cici, aku cinta padamu!”

LIKA-LIKU LAKI-LAKI

Aku laki-laki. Mataku menatap ke luar kaca mobil. Hujan sudah mulai kembali mengurai musim kemarau. Tertegunku melihat titik-titik air hujan menetes menyusuri pinggiran kaca. Basah. Dingin. Rasa dingin ini menyeruak. Membawa kenangan akan dirinya kembali.
Waktu itu. Pucuk-pucuk cemara bergoyang dengan kemayu. Angin pun bersiul riang. Udara terasa lembab. Dingin. Aku gandeng tangannya berjalan memasuki lembah bertaburan cemara.
“Ah, cinta. Kamu begitu mempesona. Senyummu, tawamu, semangatmu, kau punya karisma. Kamu sudah membawaku ke dalam alam yang sungguh berbeda. Kamu membuatku menjadi laki-laki sejati.”
“Hmmmm, apa begitu? Aku hanya melakukan yang aku inginkan saja. Aku ingin dekat denganmu. Kau pun punya energi luar biasa yang menarikku semakin mendekat. Tak peduli apa yang kau pikirkan. Hanya ini yang kumau.”

Terdiam dalam kepekatan pohon-pohon cemara. Pucuk-pucuknya semakin menggeliat dengan kencang. Tanda angin mulai bergairah tuk membuat bumi bergoncang. Langkah kakiku semakin terasa ringan. Aku pegang tangannya. Tangan kuat terbalut kelembutan. Ah, perempuan, kau begitu anggun. Wajah tanpa riasan membuatmu semakin cantik. Angin pun mulai binal memainkan ujung rambut panjangmu. Kubelai lembut uraian rambut hitammu. Sayangkah aku padanya? Entah. Yang kutahu aku merasa nyaman berada di samping perempuan ini. Nyaman ini begitu membuatku ketakutan. Aku takut untuk kehilanganmu. Aku bahkan lebih takut kalau kau anggap aku tidak mencintaimu. Ah, perempuanku.

Gelisah. Aku pun bertanya. “Mengapa kau lakukan ini?” Pandanganku lekat menatap matanya. Perempuan itu menatapku dengan heran. “Lakukan apa?” “Kau tahu yang aku maksud. Kamu begitu luar biasa. Dengan mudah kamu dapatkan apa yang sungguh kamu inginkan. Bahkan bukan hanya aku yang berkata demikian. Tapi sekarang, kamu berada dalam pelukku. Aku hanya laki-laki saja. Tak punya jabatan. Tak punya harta. Tak punya gelar. Tak punya uang pula. Bukankah lebih mudah perempuan jatuh cinta pada tipe laki-laki seperti itu. Aku yakin kau akan dapatkan yang kamu maui. Tapi, sekarang kamu ada dalam pelukku. Dan aku tak yakin ini terjadi. Dan aku merasa bersalah karena kamu sudah memilihku. Aku merasa ini bagai mimpi. Aku …”

Tangan kuat perempuan itu menutup mulutku. “Ssssst. Diamlah. Lihatlah awan hitam sudah mulai berarak. Sebentar lagi hujan. Jangan pula kau hujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan. Sudah cukup bagiku untuk merebahkan kepalaku di dadamu. Lebih banyak hal yang lebih menyenangkan untuk dipikirkan dan dilakukan. Aku teramat lelah bahkan untuk sekedar mendengar pertanyaan. Aku lebih lelah lagi untuk menjawab pertanyaan.”

Kubelai rambutnya. Kukecup keningnya. Tertidur perempuan itu di dadaku. “Istirahatlah perempuanku. Letakkan lelahmu di dadaku.”

Jumat, 15 Oktober 2010

HIDUP UNTUK BERPRESTASI DAN BERBAGI

Seperti ditulis dalam Majalah Utusan Edisi Oktober 2010.

Puji Tuhan atas semua yang telah dan akan terlalui. Berlimpah rahmat yang telah saya terima. Dukungan, doa, tantangan, rintangan, senyuman dan bahkan tangisan membuat saya tertempa untuk hargai hidup.
Terima kasih untuk Papah, Yayang, keluarga, dan segenap sahabat yang memberi kesempatan luar biasa untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.
Terima kasih pada sobat penulis (AA Kunto A) yang membuat sejimpit perjalananku menjadi luar biasa dengan rangkaian diksi-mu yang indah. Semoga buku-bukumu pun semakin membanjiri dunia penulis kita.
Terima kasih juga pada Mamahnya Mas Imo yang bersedia meladeni permintaan saya untuk mengirim foto artikel ini dari Jakarta.
Terima kasih pada majalah UTUSAN yang mengijinkan saya berbagi. Semoga majalah UTUSAN semakin diutus untuk mudah ditemukan di tiap rumah umat.

HIDUP UNTUK BERPRESTASI DAN BERBAGI
Seperti apa wujud konkret “menjadi garam dunia” di zaman modern ini? Berprestasi dan berbagi. Setidaknya dua hal ini yang sedang dilakoni Lydia Elvin Setyastuti, pemasar di Bank Rakyat Indonesia Syariah Unit Mobile Jatisrono, Wonogiri, Jawa Tengah.

Apa prestasinya? Bulan Agustus kemarin Elvin mendapatkan penghargaan nasional sebagai pemasar teladan. Omzetnya menembus angka nyaris 300 persen dari target. Hebatnya, prestasi itu ditorehkan ketika kantornya baru bukan sejak Maret tahun ini. Nama kantornya pun baru ”mobile team”, sebutan untuk persiapan menjadi ”unit”. Kantornya tanpa papan nama, baru menempati sebuah rumah kecil bersebelahan dengan bengkel sepeda motor, setelah sebelumnya menumpang di rumah mertua kepala unit.

Jatisrono terletak 30 km di sebelah timur kota Kabupaten Wonogiri atau 65 km tenggara Solo dengan wilayah berbukit-bukit. Kebanyakan warganya bekerja sebagai petani, pedagang dan pengusaha. Untuk mencapai nasabah yang tersebar hingga kecamatan-kecamatan sekitarnya, yakni Slogohimo, Jatipurno, Jatiroto, Purwantoro, Sidoharjo, Girimarto, Kismantoro, dan Bulukerto, Elvin mengendarai sepeda motor. Suami Elvin, yang sangat mendukung pekerjaannya, kadang mengantar.

Bagi Elvin, tidak ada yang tidak bisa dijangkau. Minimnya fasilitas juga bukan penghalang kerjanya. Prestasinya membuktikan itu. Bukan sarana yang membuatnya tekun, namun tujuanlah yang membimbingnya. ”Saya ingin menjadi teladan bagi anak dan adik-adik, bahwa ketika orang menekuni hal kecil dengan tekun dan sungguh-sungguh, maka kesempatan akan selalu datang,” ungkapnya.

Pernyataan itu begitu dalam jika kita merunut perjalanan hidup Elvin. Sejak tingkat SD di Baturetno, Wonogiri hingga SMA Van Lith Muntilan, rangking dua besar selalu dalam genggamannya. Ia adalah lulusan tercepat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Semasa SMA, ia bergabung di Sanggar Talenta, kelompok penulis remaja didikan Penerbit Kanisius. Ia juga bergabung dengan Teater Gardanala.

Dengan prestasi seperti ini, akal sehat kita pasti terusik, kenapa ia tidak berkarier di kota besar, di perusahaan multinasional? Toh, banyak tawaran yang menghampirinya. Kenapa justru pulang kampung, bekerja di desa yang tidak menyediakan kemewahan? Untuk apa berprestasi?

”Sedari dulu saya ingin bekerja di Wonogiri. Banyak tempat untuk berkarya dan mewartakan kasih. Perjumpaan dengan lebih banyak orang memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat lebih. Oleh karenanya, setiap kesempatan patut untuk disyukuri dan dimaknai sebagai bagian dari tugas pewartaan kasih,” tuturnya. Mengutip sastrawan Albert Camus, ia punya semboyan hidup, ”O jiwaku, janganlah mengharapkan kehidupan abadi, namun jelajahilah segala sesuatu yang mungkin sampai tuntas”.

Di perbankan syariah, ia menjelajah sampai tuntas. Sejak pertama bekerja di Bank Mega Syariah, ia melahap habis referensi-referensi persyariahan. Ya membaca buku, ya browsing di internet. Tak heran, umat Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri ini kerap jadi tumpuan pertanyaan, bukan hanya kepada nasabah, namun juga kepada teman kerja yang beragama Islam. ”Saya menjelaskan syariah sebagai sistem ekonomi, bukan ajaran agama. Banyak kok yang baru tahu akidahnya namun belum paham praktiknya,” terangnya.

Pijakan Elvin jelas. Meski, istilah syariah muncul dari kalangan Islam namun sebagai sistem perbankan, konsep syariah dikenal secara universal oleh kalangan yang mengedepankan aspek kesepakatan dan keadilan dalam bertransaksi. Demikianlah gagasan Ahmad El Najjar, ketika tahun 1963 merintis berdirinya bank simpanan di Kota Mit Ghamr, Mesir, yang tidak memungut dan menerima bunga sebagai kompensasi atas simpanan nasabah. Pada waktu itu, konsep bagi keuntungan yang diterapkan.

Di Indonesia, konsep perbankan syariah diperkenalkan tahun 1991 oleh Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan beberapa pengusaha muslim. Karena sistemnya bagus, meski sempat terguncang krisis ekonomi 1997, konsep ini, makin diterima oleh masyarakat termasuk oleh masyarakat non Muslim.

Ibu satu putri yang juga mengajar paruh waktu mata pelajaran Bimbingan dan Konseling sebuah sekolah kejuruan ini membuktikan, dengan pendekatan personal banyak pedagang dan pengusaha yang menjadi nasabahnya. ”Kunjungan kepada calon nasabah kerap saya lakukan di luar jam kerja, di waktu sore hari ketika mereka sudah tidak sibuk dengan pekerjaan. Saya ingin menjadi bagian dari keluarga mereka, sehingga ketika suatu saat mereka membutuhkan modal kerja atau investasi maka sayalah yang akan dipanggil,” tuturnya. Datang, mendengarkan, lalu berbagi. Kartu pengenal karyawan kerap ia tanggalkan justru supaya nasabah tidak merasa sedang berhadapan dengan institusi besar bernama perbankan, namun bertemu dengan sahabat. Elvin menempatkan diri seumumnya orang desa. Ketika ada nasabah yang kerepotan dalam mengurus KTP, contohnya, ia yang akan mengambil alih urusan itu. Maklum, nasabah yang pedagang tentu akan berat hati jika harus meninggalkan dagangannya.

Inilah pengalaman iman yang konkret. Menjadi berprestasi bukan untuk sekedar membesarkan diri, melainkan membantu yang kecil bertumbuh besar. Elvin seperti meneguhkan tekad pemikir Jean Paul Sartre dalam The Age of Reason, ”jika aku tak mencoba mengambil tanggung jawab atas eksistensiku, absurd rasanya untuk terus ada”.

Ya, tanggung jawab harus diambil, bukan ditunggu. Jika kita bekerja dengan hati, kiranya Allah hadir membimbing karya kita. Dan Elvin sudah menunjukkan, prestasi bisa diukir di mana pun, bahkan di tempat yang jauh dari ingar-bingar. Dari atas batu pun ada harapan.

AA Kunto A

Senin, 04 Oktober 2010

TERIMA KASIH ATAS BERIBU CINTA UNTUKKU

Telah 32 tahun aku merdeka dari rahim ibunda tercinta. Banyak hal yang terlewatkan, sedang dilewati, dan akan dilewati. Sedikit refleksi membawaku memahami makna sang waktu.

INDAHNYA CINTA WAKTU BELIA
Tinggal dalam keluarga yang super disiplin. Rajin. Tepat waktu. Jujur. Patuh. Hormat. Rukun. Di sebuah rumah kecil bercat hijau dan bertembokkan pohon ’teh-tehan’. Waktu adalah perguliran detik yang sangat padat, jelas, pasti, dan tak terbantahkan.
Dari bangun pagi, sekolah, pulang sekolah, main, tidur siang wajib, belajar sore, nonton tv, dan doa malam. Sering kena omelan gara-gara membantah yang tak terbantahkan.Ulang tahun?? Hmmm tersedia menu istimewa. Ayam panggang, tumpeng, dan ’gudangan’. Dimakan ketika siang hari sepulang sekolah. Ahhh, tak sabar rasanya menanti saat itu. Duduk bersama di ruang makan. Berdoa. Tiup lilin. Potong tumpeng. Trus serbuuuu....

Sabtu, 02 Oktober 2010

SIMSALAMBIM ABRAKADABRA

Aku mau menyublim
Menyusupi tiap relung jiwa
Menyelami tepian mimpi
Memasuki liang lahat terdalam
Melanglang buana realita

Clinggg claapp blassss
Kusenyumi derita
Kutangisi tawa

Cilukbaaaa
Lalu muncul di ruang waktu yang kumau

Minggu, 26 September 2010

MENGUNJUNGI LAUTAN BUKU DI GRAMEDIA

Setelah hampir 5 jam berkutat dalam lautan buku di toko buku Gramedia Solo. Ada perubahan nuansa emosi saya. Dahi mengernyit. Nafas panjang menghembus. Sedih pun ikutan menyeruak. Ahh. Gregetan. Penasaran. Minder. Merasa kecil. Cemberut. Senyum-senyum sendiri. Bersorak HORE. Ufff.

Jumat, 24 September 2010

MENGINTIP SURGA

Surti berdoa. ”Tuhan, berikan aku kesempatan sejenak untuk mengintip surga”. Doa itu dilemparkannya setiap hari. Jam 12 tepat. Tatkala Angelus berkumandang. Surti berteriak. Sampailah hari ke delapan. Rangkaian novenanya berakhir esok siang.

Rabu, 22 September 2010

RELIGIUSITAS ORANG JAWA

Mangunwijaya menyatakan bahwa istilah “religius” membawa konotasi pada makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya mempunyai makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religiusitas, di pihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, hati nurani, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal, dan resmi. Dikatakan lagi bahwa religiusitas merupakan perasaan keagamaan dengan konsentrasi dari pasrah, sumarah, dan sikap mendengarkan sabda Illahi dalam hati. Religiusitas juga diartikan merupakan kepercayaan pada hubungan manusia kepada yang kudus, dihayati sebagai hakekat yang gaib, hubungan yang serasi antara manusia dengan Tuhan, berdasarkan nilai-nilai moral, etika dan sopan-santun.

MENULIS ADALAH ....

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang paling tinggi tingkatannya. Sebab tingkatan berbahasa mulai dari keterampilan menyimak, kedua keterampilan berbicara, ketiga keterampilan membaca, dan yang terakhir adalah keterampilan menulis.
Menurut Nurhadi (1995) menulis adalah suatu proses penuangan ide atau gagasan dalam bentuk paparan bahasa tulis. Paparan itu merupakan rangkaian simbol-simbol bahasa atau huruf-huruf . Menulis juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, ilmu pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman hidupnya dalam bahasa tulis yang jelas, runtut, ekspresi,f enak dibaca dan bisa dipahami orang lain.

SEKILAS SEJARAH TELEKOMUNIKASI INDONESIA

Telekomunikasi terdiri dari dua suku kata, yaitu tele = jarak jauh, dan komunikasi = kegiatan untuk menyampaikan berita atau informasi. Jadi, telekomunikasi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu upaya penyampaian berita dari satu tempat ke tempat lainnya (jarak jauh) yang menggunakan alat atau media elektronik.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi mengemukakan defisini telekomunikasi yaitu ”setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara atau bunyi melalui sistem kawat, optik, radio atau sistem elektromagnetik lainnya".

Minggu, 19 September 2010

YANG TERDESAK DAN BERONTAK

Catatan selintas perjalanan di Solo. Bersama dengan saya, Antonius Pujianto, Danang Wahyu Lisnawan, Enik Tri Suryanti dan dua malaikat kecil kami (Yayang dan Lutfi). Hadiah yang luar biasa dari BRISyariah Cabang Solo atas perjuangan menembus Jawara Nasional. Terima kasih Bapak Tavip Hardaya dan Bapak Iskandar.

Sabtu, 04 September 2010

PENGALAMAN PERTAMA MENULIS BLOG

“Hai jiwaku janganlah mengharapkan kehidupan abadi, namun jelajahilah segala sesuatu yang mungkin sampai tuntas” (Pindarus, Piticus ke-3)

Hmmm menyenangkan bisa menjelajah. Membiarkan hati dan pikiran terbuka untuk semuanya. Lalu satu demi satu masuk membuka wacana baru.
Jelajah pikiran, jelajah hati, jelajah tempat, jelajah orang, jelajah waktu ….